Friday, June 8, 2018

MELAWAN PLASTIK DENGAN BAMBU

Sejak lima tahun terakhir, berita kematian ikan-ikan besar karena memakan berkilo-kilo plastik menjadi berita yang biasa didengar. Tepatnya tanggal 21 Maret 2018, Badak jantan putih terakhir mati menjadi pertanda kepunahaannya, bulan ini viral video seekor Orang Utan melawan bulldoser yang menghancurkan rumahnya, serta perubahan iklim yang semakin extreme akibat ulah kita yang tidak terkendali. Seberapa penting masalah-masalah ini bagimu? 


Bagi tiga pemuda yang saya temui ini, berita-berita tersebut sangat menyedihkan. Isu tersebut sangat penting karena isu-isu tersebut mempertaruhkan masa depan manusia, anak-anak mereka, bumi dan seisinya. Melalui Gumi Bamboo, tiga millenials, Juliantara Kris Madina and Lalu Ahyar Rosidi sudah sejak lama bercita-cita menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi isu global ini dan sekaligus ingin berpartisipasi dalam meningkatkan perekonomian lokal. Ahyar bahkan bisa terus melanjutkan kuliahnya di Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram.

Sejak tiga tahun terakhir, Gumi Bamboo telah memproduksi sedotan yang terbuat dari bambu dengan harga yang cukup terjangkau, pasar mereka sebagian besar dilirik oleh pengusaha-pengusaha restauran Kuta yang sadar akan bahaya plastik. Tercatat Kenza, El-Bazar, Dome Lombok dan beberapa restauran lainnya telah menggunakan produk ini. Sedotan bambu ini juga telah sampai ke beberapa negara Eropa seperti Swis dan Belgia. "Dalam menjalankan bisnis ini, kolaborasi adalah hal yang paling utama" Ucap Juliantara. Gumi adalah home industry yang menggabungkan youth empowerment dan women empowerment, menjembatani  kebutuhan ekonomi masyarakat kecil dengan menjaga sustainabilitas alam.



Untuk membuat produk ini, bambu yang dibutuhkan adalah bambu tua berwarna kuning kecoklatan yang dulunya tidak dimanfaatkan oleh penduduk sekitar. Bambu merupakan material berkelanjutan dan terjangkau secara finansial tidak hanya memiliki manfaat lingkungan yang kuat dalam menjaga keadaan tanah, air dan udara. Karena kecepatan tumbuhnya yang cepat, bambu menjadi bahan favorit ramah lingkungan seperti yang dilakukan oleh Gumi Bamboo. Beberapa spesies bambu bisa tumbuh hingga 10 cm perhari.

Pembuatan sedotan bambu pun sangat sederhana, pertama-tama bambu dipotong dengan ukuran tertentu, kemudian dihaluskan, bagian dalam bambu disikat dengan sikat khusus dan dijemur sekitar 3 jam di bawah sinar matahari untuk mencegah penjamuran. Sedotan ini bisa bertahan lebih dari dua tahun jika digunakan untuk keperluan pribadi. Sedangkan untuk pengusaha restaurant dianjurkan untuk menggantinya satu tahun sekali. Harga sedotan bamboo ini sangat terjangkau, satu biji sedotan sekitar IDR. 5,000. 


Sejak Jumat lalu saya juga mulai membawa sedotan bamboo ini setiap kali saya travel atau hangout dengan teman, so I can say no to plastic straw. Menurut seorang Oceanist terkemuka, Ellen McArthur, pada tahun 2050 jumlah plastik di samudra akan melebihi jumlah ikan, dan saat ini laut adalah penghasil 50% oksigen di Bumi. Apakah kamu peduli? Kamu bisa menjawabnya sendiri dalam hati.

5 comments:

  1. Idenya menarik... Yg jd masalah adalah, seberapa banyak kesediaan bambu??? Apakah bambu boleh d re_use?

    ReplyDelete
  2. Bambu sangat sustainable, 3 bulan aja udah tinggi, bisa digoogle Adek. Bambu itu adalah material yang paling sustainable dan mudah didapat :)

    ReplyDelete
  3. Bambu sangat sustainable, 3 bulan aja udah tinggi, bisa digoogle Adek. Bambu itu adalah material yang paling sustainable dan mudah didapat :)

    ReplyDelete
  4. Mantap, saya mau beli Zi, lagi2 cek website.

    ReplyDelete