Saturday, May 11, 2019

How to Fall in Love with Books



Salah satu hal yang paling sangat saya sukuri adalah lahir dan dibesarkan pada peradaban di mana saya punya kebebasan yang luas untuk menulis dan membaca. Kertas, buku dan pena bisa saya dapatkan dengan mudah. Akses ke perpustakaan sangat  lancar, akses ke perpustakaan digital atau mengakses berbagai informasi dari media masa cukup saya klik dengan jari. Ini adalah sebuah kemewahan yang utuh, jadi tidak ada alasan bagi saya (kita) untuk tidak membaca.

One of the things that I am grateful most is I was born and raised in a civilization where I have such a freedom to write and to read.  I can easily get papers, books and pen. Access to the library is incredibly smooth, access to the digital ones or access to various media where I can get information is just by clicking my finger. This is such a true luxury, so there’s no reason for me (us) not to read.

Selain percaya kepada Tuhan, saya juga percaya pada kata pertama yang diturunkan dalam salah satu kitab suci yang berarti “bacalah” dalam Bahasa Indonesia. Jika kamu tertarik untuk mengetahui makna kata baca dan membuka kamus KBBI, maka kamu akan menemukan sekitar 5 definisi: pertama (1) melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati), (2) mengeja atau melafalkan apa yang tertulis (3) mengucapkan (4) mengetahui, meramalkan (5) memperhitungkan, memahami. Saya yakin kata “baca” adalah salah satu petunjuk terbesar untuk manusia mengingat kita memiliki peran penting sebagai penjaga bumi dan dengan posisi tertinggi dalam rantai makanan.

Besides believing in God, I believe in the first word that was revealed in one of holy books which means “baca (read)” in Indonesian. If you open an Indonesian dictionary, and are interested in finding its meaning, you will find about 5 definitions: (1) see and comprehend writing contents (reading aloud or silent reading), (2) spell or read aloud what’s written, (3) recite (4) know, foresee (5) consider, comprehend. I have a firm believe that the word “baca (read)” is one of the strongest teachings for human, considering that we play such a significant role as Earth guardian and as the ones with the highest position in the food chain.


Apakah informasi ini membuatmu termotivasi untuk membaca? Saya benar-benar berharap ini bisa memotivasimu, tahu bisa mengubah mindset kita. Namun jika hal ini tidak bisa memotivasimu untuk membaca, saya tidak akan menyalahkanmu, untuk itu saya ingin berbagi bagaimana cara jatuh cinta pada buku.

Does this information motivate you to read more? I really do hope it does, knowing can change my (our) mindset.  If you don’t I won’t blame you, instead I would like to share you how to fall in love with the books.

Untuk jatuh cinta pada buku, semua berawal dari pertanyaan seperti: Apa hal yang paling kamu suka? Apa yang membuatmu bahagia? Apa yang ingin kamu tahu? Setalah menemukan jawabannya, carilah buku-buku yang berkaitan dengan jawaban tersebut, dengan hal-hal yang kamu sukai. Jika kamu suka makan, pilih cerita-cerita yang berkaitan dengan makanan, bagaimana cara membuatnya, bagaimana cara memotretnya, bagaimana makanan makanan bisa berpindah, bisa mengikat kita lebih dalam sebagai mahluk sosial. Subjek yang sesuai dengan dirimu akan membuatmu merasa saling menemukan dengan buku tersebut. Buku pertama yang kamu suka akan membuka jalan untuk menemukan buku-buku yang lain.

To have love for book, it is all started from questions like what things that you like most? What  things that make you happy? What do you want to know? After finding the answers, find the books that are related to your answers, with things that you like. If you like eating, choose stories that related to food, how to make it, how to take picture of it, how food can travel, how food bind us more as human being. Subject that is in accordance with yourself will make feel find each other with that book. First book will open another road to find other books.

Jika cara ini tidak manjur, cara lainnya dengan mencari mak comblang, dekati pembaca, peneliti, profesor, mahasiswa S3 atau pacari penulis karena mereka adalah mak comblang yang paling tepat. Pemuja-pemuja kata seperti mereka akan membuatmu murtad dari hal-hal yang sering kamu lakukan pada saat senggang, contohnya seperti main game online atau keliling mall. Ramuan kata dan kutipan yang mereka kirim akan membuatmu jatuh cinta pada buku. Mereka akan menuntunmu ke jalan-jalan pikiran yang tidak berunjung seperti diskusi-diskusi malam yang selalu disambung pada malam berikutnya.

If this tip doesn't work, other way to love books is by finding matchmaker, approach reader, researcher, professor, doctorate student or date a writer because they are the best match maker. Words eater like will help you to convert from things that you like to do during your spare time such as playing online game or hanging out in the mall. The words poison and quotation that they send you will make you fall in love with books. They will lead you the endless thought like continuous night discussion. 

Jika lagi-lagi dua cara ini tidak berguna, cara terakhir adalah patah hati dan rindu, saat rasa ini tiba dalam perjalanan hidupmu bacalah buku-buku yang bisa membantumu menikmati kesedihan dan kerinduan tersebut dan membuatmu pulih. Saya yakin cara-cara ini akan membuatmu dengan mudah jatuh cinta pada buku.

if those tips do not work for you as well, this last one probably will, you need to get your heart broken, when this feeling comes in your life journey read books that can help you to understand and to recover from that feeling. I believe this way will help you to fall in love with books.

Sunday, March 24, 2019

Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2019 sampai ke Mataram


Film adalah media kreatif yang bisa menghibur, menginspirasi dan memberikan informasi. Film sering menjadi media pembelajaran yang menyenangkan untuk mempelajari berbagai subjek. Dari cinta, budaya, bahasa, Tuhan, seni dan geografi bisa dipelajari melalui film.


Sejak memasuki dunia kerja, saya mulai jarang nonton film apalagi sampai harus pergi ke bioskop. Film lebih sering saya jadikan media mengajar ketimbang hiburan. Namun minggu lalu tgl 15-17 Maret  sepertinya universe ingin saya lebih banyak belajar lagi tentang Australia dan saya pun berkesempatan menjadi salah satu volunteer dalam acara Festival Sinema Australia Indonesia 2019 bersama alumni Australia Awards lainnya. Tugas yang saya lakukan mengambil foto dan duduk menjaga meja registari, melayani muda-mudi yang datang untuk menikmati film-film Australia. Walaupun punya banyak teman dari Australia, saya tidak pernah menonton film asli Australia. Sebelumnya saya lebih banyak membaca Australia dari buku-buku Bill Bryson seorang penulis Amerika.


Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) berlangsung di lima kota Jakarta, Makasar, bandung, Surabaya dan merupakan festival ke empat yang diadakan di Indonesia dan pertama kali di Mataram. Selama tiga hari berturut-turut ada sekitar 9 film, 7 film Australia dan 2 karya anak bangsa yang juga merupakan alumni Australia. Film-film yang diputar di Mataram tepatnya di Transmart Mataram adalah Ladies in Black, Ada Apa Dengan Cinta?, Ada Apa Dengan Cinta 2, Gurrumul, Storm Boy, Occupation  dan Film Pendek.


Dalam festival ini saya berkesempatan menonton Ladies in Black. Cerita beberapa perempuan Australia yang bekerja di sebuah department store. Peran yang sangat menginspirasi saya adalah Lisa, seorang karyawati baru di toko tersebut, ia bermimpi menjadi seorang penyair dan melamar beasiswa di University of Sydney. Empat peran perempuan dalam film ini sangat feminist, terutama Magda. I won’t give you too much spoiler.

Selain rangkaian film ini, FSAI juga mengadakan workshop dengan mengundang sineas muda NTB untuk berpartisipasi. Konsulat Australia mendatangkan Paul Damien William, sutradara sekaligus penulis film Gurrumul untuk mengisi workshop tersebut. Sutradara Australia ini juga datang menyapa para penontonnya pada saat Gurrumul diputar. Semoga festival ini menjadi acara tahunan Australia di Lombok.



Saturday, March 2, 2019

Taksi 7 Seaters ala Bluebird

Saat menyebut kata taksi sebagian besar orang akan membayangkan bentuknya seperti sedan dengan kapasitas empat orang penumpang. Kini definisi ini telah berkembang karena Bluebird baru saja meluncurkan taksi 7 seaters atau jika dialih bahasakan berarti taksi 7 Penumpang. Seperti namanya taksi ini menunjukkan kelebihannya dibandingkan dengan taksi sebelumnya.  


Peluncuran 25 Unit Transmover

Tepatnya Jumat , 1 Februari,  taxi 7 seaters sebagai multi purpose vehicle resmi diluncurkan oleh Wakil Gubernur NTB, DR. Rohmi Jalilah, didampingi oleh kepala dinas perhubungan Lombok Barat dan Provinsi, serta Direktur Utama Bluebird tbk Adrian Djokosoetono dengan memukul Gendang Beleq secara bersama-sama. Dalam pidato yang disampaaikan secara ringkas, keempat tokoh ini setuju bahwa inovasi-inovasi dalam bisnis ataupun dalam menentukan kebijakan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat di Lombok.



“Dalam koridor saling support satu sama lain, yakni mendukung transportasi NTB saya ingin mengingatkan bahwa supir Bluebird itu bukan sekedar supir, sebenarnya secara tidak langsung mereka adalah guide pertama yang ditemui oleh turis, jadi senyum dan pengetahuan yang baik tentang Lombok itu sangat perlu,” Ucap Ibu Wakil Gubernur setelah memberikan selamat kepada Bluebird atas inovasi baru yang telah dilakukan.


Dalam pidatonya Direktur Utama Bluebird menyebutkan bahwa 7 seaters adalah kepekaan industri dalam menjawab kebutuhan masyarakat Lombok yang terus berkembang pesat. Pembangunan Mandalika dan Pembangunan sirkuit yang akan dieksekusi dua tahun lagi akan meningkatkan permintaan di bidang transportasi. Dengan ekspektasi  jumlah turis lokal ataupun turis internasional yang meningkat taksi 7 seaters akan mempermudah para pelancong ataupun penggunanya untuk bepergian dalam group yang lebih besar. Taksi 7 seaters adalah mobil avanza versi 1.3L, Transmover. Dengan kapsitas yang lebih bukan berarti penumpang harus membayar lebih. Harga yang ditetapkan sama dengan taksi sedan.

Selain bertujuan untuk meluncurkan 7 seaters acara ini juga menjadi wadah pertemuan antar berbagai pihak tentunya dari pihak pemerintah, bisnis transportasi, media (journalists dan blogger milenial) dan stakeholder pariwisata yang tersebar di Pulau Lombok.

Bluebird wins my trust

Blue Bird memiliki standard tersendiri dalam mentraining supir-supir mereka, sebelum naik dan turun biasanya supir akan bertanya apakah ada barang lagi atau yang tertinggal untuk mengingatkan penumpang agar mereka tidak melupakan barang mereka. Jika barang Anda tertinggal di taksi Bluebird, barang Anda dijamin aman dan pasti kembali. Selain itu, seperti transportasi lainnya, Bluebird juga menyediakan aplikasi MyBB yang bisa didownload pada playstore atau appstore.

Biasanya saya memakai taksi Bluebird ketika menapaki kota-kota asing yang ada di Indonesia. Selain mencari informasi melalui buku dan online research, saya suka bertanya dan bercakap-cakap dengan Pak Supir tentang kota tersebut. 

Sunday, December 2, 2018

Celebrating 8 Years Old Friendship

One of my besties named Sari, she lives thousands miles away from island where I live. Around 1 hour and 45 minutes if it is converted into flight time. I met her for the first time in Bandung, thanks to Australia Youth Exchange Program that made this happen.  I knew she would be my best friend after came across her well-crafted writing. She can’t stop proofread any sentences she found, exactly like a grammar police. She is super witty, hilarious and sharp. These traits beautifully paint my serious life. Every time we met, we are not good at telling something on the surface, we dive deep, touch the ocean floor and make it into the Earth core. We share our books, our family and our friends, those things that we both treasure.


Now our friendship is about 8 years old, a few months ago she visited me to celebrate that special age. We celebrated it 7 days and night in row by traveling around Lombok. We hiked 1,900 m asl hill like a pro climber, we tried street food and secondhand clothes like a hippie, we walked along the old town of Ampenan and dined in five stars resort like a posh. Hand in hand we have tasted bittersweet of trips in different part of the world.  And I would like you to know little bit about her, in this little screen through this interview.  Happy reading!



INTERVIEW 

On a scale of 1-10, how excited are you about life right now? 
7

Describe yourself in a hashtag? 
#suchanAries

If you could do a love scene with anyone, who would it be? 
Denzel Washington

If your life was a musical, what would the marquee say? 
This girl sucks at musical

What’s one thing people don’t know about you? 
That I actually write hahah

What’s your wakeup ritual? 
Thinking “what day is it?”

What’s your go to bed ritual? 
Thinking and plotting dialogues I should’ve said to people

What’s your favorite time of day? 5PM only. No alternatives
Dream country to visit? Iran

What’s the biggest surprise you’ve had? Life in general? LOL
Heels or flats/sneakers? Oxford and ankle boots made of artificial leather
Vintage or new? VINTAGE!

Who do you want to write your obituary? My cat
Style icon? Some random girls on Instagram and any 80’s or 90’s movie stars

What are three things you can’t live without? Book, Music, Humour
What’s one ingredient you put in everything? Can I do 3? Salt, Garlic, and cabe rawit

What 3 people living or dead would you like to make dinner for? Pasta for Haruki Murakami
soup (with a little bit of shroom) for Amy Winehouse, Frida Kahlo, she doesn’t need dinner though, cigarettes and coffee would do.

What’s your biggest fear in life? To feel the long pain before dead
Window or aisle seat? Aisle, not to pee, but to run fast when accident happens
What’s your current TV obsession? Can I do 2? Atlanta and Insecure
Favorite app? Spotify, although their catalogue is not comprehensive

Secret talent? Writing? Hahaha
Most adventurous thing you’ve done in your life? I think went on paragliding. Anything could go wrong, but I did it anyway

How would you define yourself in three words? Observant, Weird (like everybody else), Particular
Favorite piece of clothing you own? All of my oversized outers (jacket, cardigan, blazer, coat) 
Must have clothing item everyone should have? Outer
Superpower you would want? To be invisible

What’s inspiring you in life right now? My paycheck, I can do heaps of things with it LOL
Best piece of advice you’ve received? Jangan dipikirin (Because I overthink everything)
Best advice you’d give your teenage self? Don’t study natural science

A book that everyone should read? We should all be feminists – ChimamandaNgozieAdichie
What would you like to be remembered for? A writer of at least 1 book
How do you define beauty? Being confident and liberated in your own skin

What do you love most about your body? My original eyebrows
Best way to take a rest/decompress? Bengong and sleep
Favorite place to view art? Music festival/ concert where people get to express their freedom
If your life were a song, what would the title be? “Life is something to do when you can’t get to sleep” (This is actually Fran Lebowitz’s quotes)

If you could master one instrument, what would it be? Electric guitar
If you had a tattoo, where would it be? Inner wrist
Dolphins or koalas? None of them
What’s your spirit animal? Cat

Best gift you’ve ever received? Any hand-written notes
Best gift you’ve ever give? Any hand-written notes, books, and a playlist
What’s your favorite board game? I don’t do board game
What’s your favorite color? Black, it’s not a color.

Least favorite color? Orange
Diamonds or pearls? Never wore any of them
Drugstore makeup or designer? Drugstore or anything cruelty-free J
Blow-dry or air-dry? Air-dry but I do blow-dry for work, no time for air-dry
Pilates or yoga? Yoga

Coffee or tea? Coffee. But I need to change to tea anytime soon
What’s the weirdest word in the English language? Fish. Why can’t we say fishes? Why is it uncountable when we can say dogs/ cats as countable and hair and beard, why can’t we say hairs but we can say beards? Aren’t they on similar degree? Weird

Dark chocolate or milk chocolate? Not a chocolate fan, but might go with chocolate milk
Stairs or elevator? Hahah you got me! Elevator! No second-guessing about it. haha
Summer or winter? Summer/ Spring/ Fall. Hate cold, hate winter. You geteclecticised when in contact with anything made of steel with your winter coat. I hate that feeling.
You are stuck on an island, you can pick one food to eat forever without getting tired of it, what would you eat? Spaghetti aglio olio

A desert you don’t like? Any drinks made of banana, like why?
A skill you’re working on mastering? Cooking vegetarian/ vegan meals J
Best thing to happen to you today? Knowing that life is going in a mundane rotation, but once in a while you get to hang out with your best friends or watch your favorite musicians performing near you.

Worst thing to happen to you today? To trip and fall in front of public, which I did in the past, not fun
Best compliment you’ve ever received? That I have good taste in music and books and movies lol
Favorite smell? Sandalwood and food smell haha

Hugs or kisses? Both
If you made a documentary, what would it be about? The life of regular people; housewives, young workers who just moved from their hometown to big cities struggling urbanistic lifestyle, grandparents, construction workers, high school girls, unsuccessful artists/ musicians, KRL train operator, maids and baby sitters, should I go on?
Last piece of content you consumed that made you cry? Kind encouragement from my colleagues
Lipstick or lip gloss? Matte lipstick
Sweet or savory? Savory

Girl crush? SZA (American singer)
How you know you’re in love? I’ll know when I do, cause I’ve never been. Ha!
Song you can listen to on repeat? Too many songs. Please head over to my Spotify account J
If you could switch lives with someone for a day who would it be? Anyone from the great golden era of the 60’s and70’s and watch the 1969 Woodstock

What are you most excited about at this time in your life? Going places, watching concerts, meeting my friends

Your go to for having a good laugh? In conversation with my best friends
Your affirmation for today? “Besok dicoba lagi.”


Monday, November 19, 2018

Daur Fest 2018: Sustainability Party Bersatu Melawan Sampah

I am a party person. I join many kinds of parties such as writer and reader party, coffee art party (I don’t really drink coffee), philosophy party and the recent party that I’ve just joined called sustainability party or Daur Fest. 



Terlepas dari politik air, politik udara, gempa ribuan kali dan jumlah sampah yang mungkin sekarang sudah melebihi berat dari berat seluruh manusia di bumi jika disatukan, di sebuah pulau kecil, Gili Air, pulau yang terancam tenggelam karena climate change, sekolompok pemuda dengan optimis bergerak menyatukan komunitas-komunitas lingkungan dan eco-bisnis melalui Daur Festival. Mereka bertemu dalam satu halaman di bawah pohon jowet yang teduh untuk melakukan promosi dan advokasi terkait masalah sampah plastik.



Tema sustainability yang diusung terasa sangat kental, tidak hanya karena kehadiran komunitas-komunitas lingkungan dan eco-bisnis tetapi juga karena setiap alat dan seting dari pesta tersebut penuh dengan sampah yang indah. Saat memasuki gerbang bambu yang dihiasi dengan botol-botol minuman warna-warni, saya disambut oleh deretan foto-foto pantai dan daerah-daerah penuh sampah di wilayah Nusa Tenggara Barat yang diletakkan pada photo-stand kayu. Foto-foto tersebut membuat saya dan pengunjung lainnya berhenti sejenak. Foto-foto itu juga membawa kenangan saya kembali pada seorang murid bernama Phoenix, umurnya sekitar 9 tahun, ketika saya memintanya untuk menjelaskan simbiosis parasitisme, ia akan menjelaskannya dengan gaya  bahasanya sendiri.

“Parasitism is one happy, and the other one is not happy about it, for example, human and forest or plants, human and ocean, human and fish, human is kind of parasite actually, they make forest and animal sad”

Saat mendengar jawabannya saya sedih dan tersindir, perasaan malu menjadi manusia pun muncul. Saya juga terharu dan bangga punya siswa sepertinya, well I am not really good teacher, because all the time I am only interested in my bright students.

“Phoenix, actually symbiosis is the relation between two different species, under the same kingdom since I never found any examples like the ones you’ve just mentioned in my resources but that was beautiful example in its own way.”

“Human and fish can be, the same kingdom and different species, pig and worm insides its tummy, what if it is parasitism but under different kingdom, what do you call it? Well I think human and trees are parasitism symbiosis Buq, it’s just human or maybe the scientists do not want us feel bad or they don’t want to blame themselves, I mean human, and that’s why you don’t find any like mine.”

“Yeah I think you are right, or probably I need to find better resources, well in the test, most of the time it just says symbiosis is the relation between two different species, I don’t think it will be that detail like my own conclusion, and I don’t think you will find the examples that you mentioned in the exam.”

“It’s because human doesn’t like to blame themselves Buq”

Mendengar balasannya saya hanya tersenyum dan merasa beruntung mengajar dan belajar dari seorang deep thinker kecil. Lamunan saya terpotong oleh suara pengunjung yang sedang mengantri di meja reception, dari tempat saya berdiri terdengar pula suara anak-anak yang sedang bermain dan mencoba beberapa alat perkusi dan game-game yang terbuat dari sampah. Panggungnya terbuat dari kayu-kayu bekas tempat buah, kursinya tempat para musisi dan pembicara duduk adalah tumpukan rapi dua kotak plastik bekas minuman bersoda yang di atasnya dilapisi bantal kecil, latar dari panggungnya adalah kain putih bertulis Daur Fest 2018 dengan gambar penyu yang melambangkan bumi seperti philosophy suku Indian, selain itu gili identik dengan penyu dan terlebih lagi populasi penyu di dunia terus menurun.




Di sekeliling panggung, kursi-kursi panjang berjajar membentuk setengah lingkaran, di belankangnya berdiri sekitar delapan meja dan kursi yang menjadi stan-stan komunitas, yayasan dan eco-bisnis dengan produk-produk organik dan berbagai produk menarik dari sampah dan barang-barang bekas. Di antaranya Bale Jukung yang menjual madu organik dan kopi, Gumi Bamboo dengan sedotan bamboo dan kacamata jaman now yang terbuat dari denim-denim bekas, Environment Without Boundaries dengan berbagai macam perhiasan dan furnitur yang terbuat dari sampah plastic dan barang bekas, Trash Hero yang juga memamerkan karya seni seperti lukisan dari sampah, Origin dengan sabun dan sunscreen tanpa SLS, Bekebon dengan super jus organik yang terjual habis sebelum festival selesai dan stan Daur sendiri dengan berbagai souvenir yang terbuat dari tutup botol dengan corak seperti lukisan-lukisan abstrak Jackson Polock. Di beberapa pojok terdapat gallon air minum di mana pengunjung bisa mengisi ulang air menggunakan botol mereka sendiri.


Acara berlangsung dari pukul 1 siang hingga jam 6 sore. Anak-anak, pemuda dan ibu-ibu Gili Air, turis baik lokal maupun international berkumpul, duduk rapi dan berdiri menikmati acara yang dibuka langsung oleh lantunan biola dan permainan apik Lombok Perkusi yang menghasilkan nada-nada merdu dari ember-ember bekas memukau para pengunjung, kemudian diikuti oleh sambutan inspiratif dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan founder sekaligus leader project Daur, Adhitya Yusuf yang juga menginisiasi festival ini. Talk Show, pertunjukan dari Angklung Siswa Gili Air dan stand up komedi menjadi rangkaian dari acara tersebut.





Selain sebagai ajang meet and greet bagi yayasan, komunitas dan eco bisni, festival ini juga bertujuan untuk memperkenalkan dan menjual souvenir yang dibuat oleh ibu-ibu dan bapak-bapak di Gili Air yang telah di berikan pelatihan oleh Daur dan tentunya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sampah dan perubahan iklim. Acara Daur Fest ditutup oleh ucapan terima kasih dari tim Daur kepada semua pihak yang telah memberi dukungan sebelum dan selama acara berlangsung.

Saturday, October 20, 2018

Menikmati Pop dan Minimalism dalam Karya Yayoi Kusama

Karya-karya seni sering tersesat pada zaman di mana mereka dilahirkan, beberapa karya harus menunggu bertahun-tahun bahkan ratusan tahun setelah sang seniman meninggal untuk ditemukan, diterima dan mendapatkan pengakuan. Beberapa karya sangat mudah ditangkap keindahannya, lahir dan langsung digandrungi oleh penikmat seni pada zamannya, bahkan beberapa karya ditunggu kelahirannya.

Photo oleh Wilia Paramitasari
Tepat pada tahun kelahiran adik pertama saya tahun 1989, karya Yoyoi Kusama dikenal dunia. Saya baru berumur kurang dari tiga tahun. Saat itu dia sedang mendapatkan beasiswa dan melakukan pamerannya di Eropa. Bagi saya pribadi, menemukan karya-karyanya mebutuhkan sekitar 27 tahun. Pertama kali menemukannya saat saya mencari video tentang Hirosi Sujimoto, seorang photographer dunia dari Jepang. Video pertama tentang Kusama yang saya tonton mengisahkan kehidupan masa kecilnya di Cina yang kelam dan bagaimana orang-orang terdekatnya menolak profesi seniman hingga akhirnya ia memutuskan untuk melarikan diri ke New York dan berjanji di puncak Empire State untuk meraih mimpinya menjadi seoarang seniman ternama. Dalam video tersebut saya jatuh cinta pada karya-karyanya. Karya-karya yang membangunkan keindahan dari keanehan, bergerak menjauhi dan melawan konsep-konsep klasik. Salah satunya adalah Obliteration Room yang memberikan kesempatan pengunjung untuk menjadi bagian dari karyanya. Sejak saat itu saya sering mencari ke mana pamerannya melanglang buana, berpetualang ke Naushima melalui youtube. Butuh sekitar 4 tahun untuk benar-benar berjodoh. Tiga kali kami saling berpapasan, saat pameran dimulai, saya harus meninggalkan kota-kota tersebut dan sebaliknya. Bulan ini, tepat sebelum dua hari penutupan pamerannya di MACAN, Jakarta seorang teman membawa saya ke museum ini dengan dua tiket bergambar bintik-bintik merah ditangannya bertuliskan “Life Is in the Heart of a Rainbow” I was in it, felt that life was in the heart of a rainbow.

Sebelum memasuki ruang utama galeri, di bagian luar labu-labu raksasa dengan warna pop menyala, warna kuning dengan bintik-bintik hitam mendominasi. Mengapa labu? Mengapa bukan buah melon atau semangka? Sambil berjalan mengantri menuju The Garden of Narcissus, pertanyaan ini tidak hilang dari kepala. Kemungkinan-kemungkinan terbesit, mungkin karena labu dekat dengan Halloween, labu bisa menjadi sayur dan buah dan karena Yayoi kusama terobsesi dengan buah ini.

Di Garden Narcissus antrian makin panjang, anak-anak remaja, tua muda ingin berfoto di taman bola-bola yang terbuat dari baja mengkilat ini. Sepertinya Kusama sudah meramalkan bahwa semakin tua bumi manusia akan semakin narsis. Kusama membuat taman ini sekitar 52 tahun yang lalu pada saat ia mengikuti Bienalle ke 33 Venezia, Italia. Bola-bola baja mengkilat, memantulkan cahaya dan wajah-wajah pengunjung.

Di sebuah pojok ruang terdapat patung Venus DeMilo yang dicat dengan pola polka dot. Beberapa lukisan yang membentuk jarring-jaring salaing terkoneksi yang seperti terbentuk dari spectrum cahaya yang tersisa saat kita menutup mata. Di beberapa dinding ruang tengah terdapat lukisan-lukisan dengan kanvas besar. Yang paling menarik perhatian saya adalah lukisan kumpulan sperma berwarna merah yang berenang di canvas putih yang mungkin ia ibaratkan sebagai sel telur di mana keduanya membentuk suatu kehidupan. Kusama is single, he doesn’t indentify herself as a feminist. Ia juga mengakui bahwa karya-karyanya dipengaruhi oleh seniman seperti Andy Warhol.

Photo oleh Wilia Paramitasari

Photo oleh Wilia Paramitasari

Dalam pameran ini ada tiga instalasi ruangan khusus yang saya masuki yaitu mirror room, infinity room dan obliteration room. Di setiap ruangan, waktu sangat dibatasi untuk menjaga keutuhan karya tersebut dan juga karena jumlah pengunjung yang tinggi. Ketiga ruangan ini membuat saya berada seperti dalam  dunia mimpi dan imaji. Warna-warna terang membentuk ilusi yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Di dalam Obliteration Room, pengunjung menjadi bagian dari karya ini karena kami diberikan kesempatan untuk menempelkan lingkaran dengan berbagai ukuran pada ruangan dengan semua furniture berwarna putih. Ruangan ini terinspirasi dari masa kecilnya dan juga saat-saat di mana ia tinggal di rumah sakit jiwa selama bertahun-tahun. 

Jenius memang dekat dengan kegilaan, Kusama menangkap bentuk dan pola bukan dengan mempelajari matematika seperti manusia pada umumnya. Ia menangkap bentuk, ukuran dan formula suatu pola dengan jiwanya. During the exhibition I was kind of upset because the committee did not allow me to go inside with my mirror less. 

Tuesday, October 16, 2018

Menikmati Lombok Coffee Festival 2018 di Sundancer


"Setelah menangis, Lombok kembali tersenyum di depan kopi"

Do you drink coffee? Jawaban ya atau tidak sebenarnya tidak akan merubah bagaimana kopi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Jika kamu mengecek dapur ibumu, pasti kamu akan menemukan kopi sedang bersanding dengan gula, di tempat kerjamu kopi disediakan untuk para karyawan dan di setiap warung yang kamu singgahi, kopi menjadi minuman wajib untuk dijual. Kopi juga merupakan minuman yang paling banyak dikonsumsi oleh manusia di dunia. Coffee Culture yang kuat tumbuh di negara-negara tropis penghasil kopi seperti negara-negara di Amerika Latin dan pastinya di Indonesia.


Di Indonesia sendiri jika seseorang mengajakmu untuk minum kopi bersama itu artinya orang tersebut ingin lebih akrab denganmu. Saat kamu berpetualang ke daerah pedesaan seperti di Pulau Lombok, warga desa akan menyapamu dan menawarimu kopi. Tahun ini Wyndham Sundancer Resort Lombok menjadi tuan rumah sekaligus penggagas Lombok Coffee Festival pertama di Nusa Tenggara Barat dengan agenda utama Coffee Art Competition yang bertujuan untuk membangun kembali gairah pariwisata Lombok pasca gempa.

Lombok Coffee Art Competition

Tepatnya di depan Beach Club Sundancer, taxi Blue Bird yang saya tumpangi berhenti. Kemudian melakah keluar, memasuki sebuah pintu gerbang elegan dan disambut oleh senyum hangat para pegawai yang mengenakan seragam biru. Dari depan pintu Samudra Hindia, dengan beberapa gili terbingkai dalam pilar-pilar besar penyangga atap alang-alang dengan lantai pasir. Di dalamnya 38 profesional barista dari berbagai café dan hotel yang ada di Pulau Lombok dan Sumbawa berkumpul untuk menunjukkan keahlian mereka dalam merangkai kopi. Dari 38 peserta dua di antaranya adalah perempuan-perempuan muda. Setiap peserta diberikan waktu sekiar 4 menit untuk menyelesaikan karyanya. Racikan kopi-kopi mereka diiringi musik yang membuat peserta dan penonton semakin bersemangat.


Juri dalam kompetisi ini berasal dari Asosiasi Chef Indonesia, Asosiasi General Manager NTB, ASITA dan Senior Professional Barista. Kriteria penilaiannya terdiri dari ketepatan, kecepatan, kebersihan, keindahan, taste, plating dan closing. Kopi yang dilombakan ada dua yaitu Hot Coffee dan Cold Coffee.

Aeni from Cafe Pancingan
Dalam kompetisi ini, pengunjung juga diberikan kesempatan untuk mencoba racikan kopi dari para barista (I had double) dan berkesempatan mendapatkan oleh-oleh kopi. Saat azan mulai berkumandang, musik dimatikan, para peserta dan pengunjung yang beragama Islam dipersilahkan untuk melakukan sholat zuhur. Konsep berugaq musholla yang berhadapan dengan pantai membuat para pengunjung merasa lebih dekat dengan Tuhan dan seperti berada di rumah.




Semakin matahari bergeser ke barat, pengunjung semakin ramai. Hingga akhirnya kompetisipun usai dan dimenangkan oleh barista berhijab yang bernama Aeni. Perempuan berusia 21 tahun ini bekerja di Café Pancingan Mataram. Ada 5 pemenang yang mendapatkan hadiah dan  semua peserta mendapatkan sertifikat. Lombok  Coffee Festival telah dijadikan agenda tahunan.

Festival berikutnya adalah Festival Begibung yang mengusung konsep desa wisata. Festival ini akan menjembatani para touris untuk mengenyam budaya Lombok melalui table manner dan cita rasa makanan khasnya. Selain itu pemilihan Putri Indonesia Provinsi NTB dan Putri Indonesia tingkat Nasional akan diadakan di Sundancer. Jangan lupa Cek Calender Sundancer atau follow instagram dan fanspage facebooknya untuk terus mendapatkan informasi event dan festivals yang akan diselenggarakan berikutnya.

Coffee and Venue Energy



Selain menjadi bagian dari symbol suatu budaya baik klasik maupun milenial, kopi memberikan energi pada penikmatnya terutama mereka yang berprofesi sebagai penulis. Kandungan kafein dan sensasi pahit dalam kopi menemani penulis untuk mencari ide dan berpikir dalam alam sadarnya. Banyak penulis memilih untuk menyelesaikan tulisan-tulisannya di Coffee Shop, apakah kamu salah satu di antaranya? Pernah mencoba minum kopi di tepi pantai, di antara jeda menulis kamu bisa menyaksikan matahari terbit dan menyaksikan matahari tenggelam? Pada malam hari saat bulan purnama, lampu di Beach House Sundancer akan dimatikan untuk menikmati pencahayaan alami dan ketenangan pantai selatan Pulau Lombok. If you’ve never done this, you really have to put it in your bucket list! Tempat ini juga sangat cocok untuk hang out baik bersama teman atau pun keluarga. Venue energi tempat ini akan menambah semangatmu dalam bekerja  especially in your weekdays dan akan membuatmu kembali berkali-kali.