Saturday, September 21, 2019

Puisi yang Harus Dibaca Lelaki

I am very bias in many ways. I think with my heart, I often do not trust myself as a reader, as a teacher, as a voter (especially in the election) dan satu-satunya hal yang saya cukup yakin adalah saya seorang feminist and I’ve done background checking on it many times. It has given me rasa percaya diri yang cukup dalam menilik puisi-puisi karya Julia.



Catatan I

Letakkan Saja Panci Itu, Imah.

Letakkan saja panci itu, Imah

Ambil bedak dan berhiaslah
Tugasmu tak semata menggosok pantat hitam
Panci dan wajan
Itu nanti ada waktunya
Tunda saja mencuci pakaian dua keranjang
Nanti aku bantu kau membilasnya
Sini, kemarilah
Sesekali, ganti daster itu dengan lingerie
Aku suka melihatmu dari balik renda lembut bertali

Letakkan saja panci itu, Imah
Dan kemarilah
Aku  telah pulang sore ini,
Padamu
Pada rumah

Lombok, Desember 2014


Jiwa Puisi

Saat membaca paragraf pertama, saya melihat penggunaan kata-kata di dalamnya sangat kongkrit dan receh, baik dari pilihan nama, alat, sifat dan hal-hal yang dianggap lumrah bagi perempuan terutama dalam tatanan budaya patriarki. Seperti panci (dapur), daster (kasur), dan cuci (dekat dengan sumur), tiga hal yang mendefinisakan identitas perempuan di mata laki-laki klasik. Pilihan kata-kata yang receh ini diberi muatan kata-kata perintah, menegaskan bahwa puisi ini adalah deskripsi perhatian dan bantuan yang dibutuhkan seoarang istri, seorang perempuan dalam menjalani urusan rumah tangga di mana beban diharapkan bisa dipikul bersama dan pembagian peran dituntut untuk lebih manusiawi.

Tokoh Imah dalam puisi digambarkan terjebak dalam budaya patriarki, hingga ia lupa dengan dirinya sendiri. Perspektif murni sebagai perempuan dikaburkan oleh pandangan-pandangan budaya, sejarah dan rayuan publik.

Kata asing lingerie (baju tidur khusus perempuan), kata yang sarat makna dan satu-satunya benda mati yang digunakan untuk melambangkan feminism dalam paragraf pertama. Lingerie menggambarkan bahwa perempuan berhak untuk diperlakukan dengan layak dan harus dimulai dari rumah. A man gives a woman duster, a gentleman gives a woman lingerie.

Kata asing lingerie dipilih mungkin karena feminism cenderung dianggap lahir di barat dan tentu karena lebih indah dari pada daster. Nawal Elsaadawi dalam wawancaranya menjelaskan konsep feminisme sebagai ism yang sangat universal, historis dan tertanam (implisit/eksplisit) dalam budaya dan perjuangan perempuan di seluruh dunia. Perempuan mesir ini juga menggaris bawahi bahwa feminisme bukan sesuatu yang harus dipelajari, banyak perempuan menjadi seorang feminis tanpa mempelajari apa itu feminisme (contohnya seperti imah), dan feminisme tidak melawan laki-laki tapi sistem patriarki itu sendiri karena sekarang 40% laki-laki muda pro feminisme. Laki-laki dan perempuan sama-sama menjadi korban sistem patriarki.

“It is historical, it is everywhere, it is in every country, women were rebelling in all religions, in India, in Egypt, under Hindus, under Judaism, under Christianity or Islam, women are fighting for their rights, so we call ourselves historical, feminism is not a western invention, feminism was not invented by American women as many people think, no feminism is embedded in the culture, in the struggle of women all over the world.”

“Feminism is not something that girl or women have to study, they become a feminist without learning feminism.”

Kemunculan kata aku seperti sebuah kejutan. Aku di sini adalah laki-laki feminist (He for she). Laki-laki yang mengerti perjuangan perempuan. Kata rumah dalam paragraf kedua bermakna positif. Di seluruh dunia, bumi dan tanah feminis. Bumi berbentuk bola seperti ovum, bumi adalah tempat di mana kehidupan lahir dan tumbuh. Bumi memiliki fungsi feminis yang sama dengan perempuan, sebagai ibu, melahirkan dan menyusui anak-anaknya. Aku adalah imaginasi Imah atau women’s man. Laki-laki yang dibayangkan kebanyakan istri seperti Imah adalah laki-laki di iklan-iklan pembersih kamar mandi.

Imah is implicitly feminist sama seperti perempuan-perempuan Indonesia pada umumnya. Ketakutan-ketakutan terhadap dokrin yang ditanamkan sejak kecil membuat perempuan terpaksa menerima peran yang diberikan masyarakat kepadanya. Banyak perempuan yang merasa tidak nyaman untuk menggunakan kata feminisme karena takut terjebak dengan pelabelan atau istilah, bahkan Ulil Absar Abdalla sendiri, tidak ingin menggunakan kata ini walaupun dia dengan terbuka menyatakan bahwa kesetaraan gender adalah hal yang perlu diperjuangkan.

In short, puisi ini adalah dialektika antara feminis dan patriarki yang berdiri sebagai lawan untuk mendekatkan dirinya pada moral dan kebenaran.

Tubuh Puisi

Tubuh puisi ini lurus, sangat mudah dipahami dan hidup dengan bentuk naratif dan kongkrit. Penggunaan stanza bebas dan jumlah aliterasi yang terbatas membuat puisi ini sangat alami. Penulis seperti memiliki bakat alam, ia berkarya tanpa memikirkan bantuan struktur.

Catatan II
Petang di Sudut Dubai (It’s terribly beautiful)

Karena satu-satunya hiburan kita adalah minum Lipton dengan krim, di sini 1 dirham harganya. Maka kita bawa dalam styrofoam dan menghirupnya di jalan raya dan bila beruntung dapat khat Yemen dari kawan kerja. Tidur berimpit puluhan orang dalam kamar 2 x 3 meter tak ideal bagi manusia, tapi untuk kecoak seperti kita, belum lagi terus-terusan mendengar erang kawan di sebelah, menggenggam penisnya karena rindu istri dan pacarnya di jauh sana, pejamkan saja mata dan berusaha tidur meski hanya sejam dua.

Hidup cukuplah mengebor jalan, memperbaiki gedung-gedung atau membangunnya, agar Dubai dan Abu Dhabi molek bagi dunia. Tak perlu ada yang tahu, roti basi berhari-hari untuk kita bagi. Mandor yang kuasa karena paspor di tangannya. Bagaimana mau menebus visa dengan ancaman sepuluh tahun penjara, dan hutang di tetangga sebelum berangkat kemarin tetap menganga.

Sama saja, mereka yang Pathan, akan menyetir taksi-taksi putih dengan muka lebih asam dari susu lassi. Tak peduli ada penumpang atau tidak, yang penting siang nanti musti ada biryani dan sorenya bisa minum lipton di jalan raya tak perlu sendiri-sendiri.

Kami ingin pulang, tapi hutang terlampau besar. Upah hanya cukup membeli chapati sesekali, dan harus biasa dengan lapar yang menggema. Sementara mereka akan menonton pacuan kuda setahun sekali, dan perempuan-perempuan molek dengan topi rumbai di kepala, kami tersuruk memunguti sampah permen karet mereka. Lumayan upahnya untuk sekerat Nan malam nanti.
Kami ingin pulang, tapi penjara adalah rumah sendiri.

Jiwa Puisi

Unsur-unsur trinitas kebutuhan utama manusia: pangan, sandang dan papan di mana tokoh-tokoh proletar muncul sebagai bukti dari ilusi kemewahan yang dibangun oleh kapitalisme dan ilusi demokrasi menjadi peletak dasar dari jiwa puisi Petang di Sudut Dubai.
Puisi ini dimulai dengan “karena” untuk menunjukkan bahwa akibat sama pentingnya dengan sebab. Jadi panggilan-panggilan kewajiban dari proletar kepada kapitalisme dan pembuat kebijakan untuk meregulasi kembali hak-hak buruh migran. 

Manusia diibaratkan seperti “kecoak.” Proses dihumanisai diberikan untuk menekankan keadaan dan secara tidak langsung perlakuan yang didapatkan. Pilihan kata “Molek” pada paragraf kedua memberikan makna negatif pada keindaahan kota megapolitan Dubai. Molek adalah feminisme yang melawan kapitalisme dan patriarki, satu kesatuan yang membentuk ilusi demokrasi. Dibalik Gedung-gedung tinggi (pembangunan) jarang terdengar berita tentang kaum proletar yang terpaksa turut membangunnya untuk melanjutkan hidup mereka.

Kompleksitas Petang di Sudut Dubai



Poros Tengah (Penulis/Pembaca)
Kutub Positif
Kutub Negatif
Abstrak
Puisi kedua membantu saya merumuskan kebenaran yang tinggi tentang ilusi demokrasi dan hak buruh migran yang tidak didapatkan.



-
Kongkrit
Kejadian-kejadian dalam puisi bisa saya bayangkan dengan jelas karena ada dalam kenyataan.


Universal
Nilai-nilai universal diwakili oleh aku dan berbagai kata-kata asing dari bahasa-bahasa negara berkembang di Asia Selatan, misalnya seperti Phatan atau orang-orang pastun (Orang Afganistan/Pakistan), khat, salah satu daun herbal yang dijadikan teh, atau disebut juga teh arab/teh afrika/teh Yaman, briyani (nasi briyani), chapati (unleavened bread) dan naan (leavened bread), dan susu lassi.

Puisi ini memilih kata kita bukan kami, tidak mengisolasi pembacanya, karena puisi ini mengerti benar bahwa hampir semua manusia terjebak dalam sistem kapitalisme.

Tokoh aku tidak menjelaskan asal negaranya atau sukunya secara explisit.  
Partikular
Ciri khas dua puisi-puisi ini memberikan ruang pada hal-hal kecil, kegiatan sehari-hari seorang buruh migran atau ibu-ibu rumah tangga pada puisi pertama.


Objektif
Keobjektifan yang bisa diukur terhitung jelas di mana tokoh aku menggunakan sebagian besar data dalam puisi dari  kegiatan-kegiatan buruh migran yang ia temui dan lihat di Dubai.
Mengabaikan perasaan sendiri. “Pejamkan saja mata, dan berusaha tidur meski hanya sejam dua.”

Subjektif
Suara kaum proletar terdengar jelas dan tertindas dalam setiap paragraf. Perumahan yang tidak layak, gaji yang tidak pantas, visa ditahan dan harus bekerja sampingan untuk mendapatkan satu hari yang layak.


Umum
Sangat dekat dengan kepentingan umum, mengingat jumlah kaum proletar jauh lebih banyak dari jumlah kapitalis di dunia.

Puitis
Sisi kemanusian yang diangkat membuat puisi menjadi lebih puitis.



Budaya
collectivism yang tertanam khusunya di negara-negara berkembang semakin kuat saat seseorang pergi merantau. Menemukan teman seperjuangan seperti obat rindu rumah di negeri orang. Dalam kalimat “Tak peduli ada penumpang atau tidak, yang penting siang nanti musti ada biryani dan sorenya bisa minum lipton di jalan raya tak perlu sendiri-sendiri” terlihat proses penyederhaan kebahagian. Perbandingan dua dunia, proletar dan kapitalis digambarkan dalam kegiatan-kegiatan yang didasarkan atas perbedaan kelas dan ekonomi. 

Puisi kedua ini ditutup dengan dua kalimat yang saling bertentangan, tentang rindu kampung halaman namun kampung halaman adalah “hutang menganga” dan kemiskinan yang menjadi penjara.

Tubuh Puisi

Puisi berbentuk paragraf-paragraf besar seperti prosa. Ironi menjadi pembuka, personifikasi digunakan untuk menambah rasa puitis seperti “kecoak seperti kita, lapar yang menggema.” Sama seperti puisi sebelumnya, puisi ini mengalir dengan naratif yang jelas dan kongkrit. Saat membacanya saya bisa merasakan meter, dari kata seperti krim, dirham dan steriofom pada awal puisi.

Monday, September 16, 2019

Padang Pasir Mui Ne Tanpa Shah Rukh Khan

Sejak hari pertama di Saigon, saya mulai mencoba berbicara Bahasa Inggris sepelan mungkin untuk mengurangi misunderstanding yang terjadi setiap menit. Setalah berbicara dengan travel consultant muda di salah satu travel agency yang terletak di jalan Pham Ngu Lau, kami bertiga memutuskan untuk mengambil paket tour ke Mui Ne. Paket wisata ini super murah ditambah lagi diskon yang kami dapatkan karena memesan tiga paket. Dan mungkin alasan kedua karena kami terlihat sangat muda dan Ngok, the travel consultant mengerti kami adalah budget traveler.



Keesokan harinya kami bangun jam 5 pagi dan berada di titk kumpul sebelum jam 7. Waktu tempuh dari Saigon ke Mui Ne sekitar 4 jam. Dalam perjalanan saya tidur sekitar dua jam karena tempat duduk di dalam bis benar-benar terasa seperti tempat tidur. Saat semua tirai ditutup, interior bis terlihat seperti asrama kecil. Bis ini berhenti sekitar dua kali di pusat pembelian oleh-oleh.


Setelah mencapai pusat kota Mui Ne, kami dijemput oleh mobil jeep. Mereka membawa daftar nama kami bertiga dan memastikan kalau kami adalah tamunya. Supir dan guide yang kami dapatkan sangat muda, tampaknya mereka baru saja lulus SMA. Bahasa Inggris yang minim dengan gerak tangan menjadi satu-satunya jalan untuk saling mengerti. We often laugh to each other because of so many misunderstandings. I keep many questions about Mui Ne in my head. Kami juga sadar bahwa ternyata kami akan mengunjungi 4 destinasi wisata, bukan satu destinasi seperti yang dijelaskan oleh Ngok. Alhasil ini menjadi misunderstanding dan surprise yang menyenangkan untuk kami bertiga. Mui Ne adalah kota kecil yang terletak di provinsi Binh Thuan, tepatnya di daerah sekitar Laut Cina Selatan.

Destinasi pertama adalah sebuah sungai kecil dengan aliran air dengan ketinggian dari mata kaki hingga betis. Dasar sungai berpasir lembut menjadikan sungai ini sebagai area trekking yang menyenangkan untuk sampai pada pemandangan utama hanya mmembutuhkan waktu sekitar 30 menit. Di sepanjang sungai terdapat bukit-bukit yang tanahnya berwarna kuning kemerah-merahan yang membentuk berbagai bentuk. Terdapat pula pedagang yang menjajakan beragam buah-buah tropis.

Dari tempat ini kami meneruskan perjalan, kami berhenti di sebuah rumah makan tepi pantai di mana mata kami dimanjakan dengan pemandangan desa nelayan. Perahu-perahu biru mereka yang berbentuk lingkaran menyita perhatian karena jauh berbeda dengan perahu-perahu nelayan pada umumnya. Saat menuruni tangga menuju pantai,  saya kecewa karena pantainya kotor, sampah plastik kiriman dari laut merusak pemandangan dan ekosistem pantai ini. Saat asik mengambil foto, suara guide saya terdengar lirih meminta saya untuk kembali dan melanjutkan perjalanan menuju destinasi utama. Seandainya saya bisa Bahasa Vietnam, saya bisa mendengar perspektif lokal, tidak hanya menggantungkan diri pada informasi-informasi yang saya baca di Mbah Google.




Dalam waktu yang singkat, akhirnya Mui Ne di depan mata, suara padang pasir menyentuh genderang telinga dan pemandangan model-model dengan gaun-gaun mereka sedang melakukan photoshoot membuat saya merasa seperti dalam pembuatan video klip film-film Bollywood. Ingat lagu ini?

Suraj hua maddham, chaand jalne Laga
Aasmaan yeh Haai kyoon pighalne laga

Main thehra raha, zameen chalne lagi
Dhadka yeh dil, saans thamne lagi
Oh, kya yeh mera pehla pehla pyaar hai

Terdapat tiga titik di Padang Pasir Putih Mui Ne yang biasanya menjadi titik pusat. Spot-spot ini dicapai dengan mobil atau dengan motor besar dengan ban-ban yang tingginya hampir sama persis dengan tinggi badan saya. Titik pertama adalah titik yang terdekat sekaligus berada di tengah-tengah gurun. Titik ini memperlihatkan lanskap yang hampir sepenuhnya adalah gurun. Titik kedua adalah padang pasir dengan gundukan tertinggi, pemandangan gurun beserta hutan yang berada jauh mendekati horizon tampak jelas dari titik ini. Titik terjauh adalah daerah di sekitar danau kecil atau oase. Gundungan pasir di sekitar membatasi sudut pandang kita dan mebuat para wisatawan fokus pada danau dan padang pasir tempat mereka berdiri.





Sekitar dua jam berada di padang pasir ini, sebuah mobil menjemput kami dan membawa kami ke Posko. Dengan bahasa tangan, ia menunjukkan jam tangannya, menyebutkan kata guide, padang pasir merah dan sunset. Dengan perasaan puas kami meninggalkan titik pertama, pasir yang terbang akibat ban mobil terlihat seperti badai pasir kecil. Mui Ne sangat berkesan terutama untuk kami gadis tropis yang pertama kali menginjakkan kaki di Padang Pasir. Di seberang area lobby, terdapat sebuah danau kecil juga dengan pohon-pohon yang terlihat seperti pohon pinecon.




10 menit dari padang pasir putih, padang pasir merah yang luasnya setengah dari padang pasir putih tampak seperti tempat para alien mendarat di film-film. Tidak jauh dari padang berpasir merah ini terdapat hutan tropis yang cukup lebat. Tidak seperti padang pasir putih, padang pasir merah lebih ramai karena letaknya yang lebih dekat dengan jalan, gundukannya yang tidak terlalu tinggi sehingga bisa dicapai dengan mudah hanya dengan jalan kaki. Selain itu Red Sand Dune atau padang pasir merah juga ramai dengan anak-anak Vietnam yang membawa papan-papan sederhana untuk bermain sand sliding dan menjadi tempat favorit turis untuk menutup harinya dengan melihat matahari tenggelam.

Sunday, August 4, 2019

Tra Su Forest, I am in Love


Saat mengetahui waktu tempuh dari Saigon ke Tra Su National Park sekitar 7 sampai 8 jam naik bis, saya dan teman-teman memutuskan mengambil tur tiga hari. Harga yang kami dapatkan pun lebih murah dari harga yang didapatkan turis-turis lain. Beberapa teman seperjalan kami mendapat harga hingga 1.8 juta Dong, dua kali lipat dari harga yang kami dapatkan. Dalam rupiah harga yang harus kami bayar masing-masing sekitar 500.000 termasuk biaya penginapan dan tiket masuk ke semua tempat yang akan kami kunjungi, murah bukan?


Tur diawali dengan kunjungan ke sebuah kuil tua yang dulunya pernah menjadi pusat ibadah Vietnam dan Kamboja. Pada halaman kuil terdapat sebuah patung Buddha besar yang sedang beristirahat, lelap dengan tangan kanan sebagai bantal. Wajahnya yang tenang seperti mengatakan “Enjoy your holiday!” pada semua pengunjung. Kuil ini menyadarkan saya bahwa bagi masyarakat Vietnam hari kematian lebih penting dari pada hari lahir. Hari kematian dirayakan lebih meriah dan orang Vietnam sangat menghargai nenek moyang mereka. Keluarga di negara ini biasanya membuat kuil khusus untuk para leluhurnya. Pada hari ulang tahun kematian leluhurnya, mereka akan mengunjungi kuil dan makam bersama-sama. Dalam perjalanan menuju destinasi berikutnya, dari dalam bis, banyak terlihat makam-makan mandiri yang berdiri di lahan pribadi. 



Sekitar jam 10 pagi, bis kecil bermuatan 15 orang sampai di  sebuah pelabuhan Sungai Mekong yang akan membawa kami ke provinsi Ben Tre. Tour di wilayah hilir Mekong disebut Mekong Delta. Mekong Delta sering disangka satu provinsi sendiri tapi sebenarnya terdapat 13 provinsi di area ini. Panjang Sungai Mekong sendiri sekitar 4.350 km, mengalir ke Laut Cina Selatan dan memiliki 9 cabang. Warna airnya keruh kecoklatan akibat banyaknya penambangan pasir.  Untuk mencapai provinsi Ben Tre kami melewati sekitar 3 provinsi. Ben Tre adalah provinsi yang terdiri dari 4 pulau. Sangat susah untuk saya mengingatnya satu satu. Setiap nama terdiri dari tiga kata di mana setiap kata hanya terdiri dari satu suku kata.



Setiap pulau memiliki daya Tarik tersendiri,  pulau perrtama kami disuguhkan dengan buah-buah tropis dan minuman sehat dari madu sambil dihibur dengan lagu yang dinyanyikan oleh gadis-gadis muda dan tua dalam busana tradisional Vietnam. Tur kami di pulau ini ditutup dengan 15 menit menaiki perahu kecil melalui kanal-kanal kecil yang membelah pulau. Di Pulau kedua kami mengunjungi pembuat manisan kelapa, rasanya seperti dodol rasa kelapa. Kami melihat proses pembuatan hingga proses packagingnya. Sedangkan di pulau ketiga kami makan siang dan menikmati taman-taman di sekitar sungai. Beberapa teman tour saya mengunjungi pusat peternakan buaya. I skipped it because I am a vegetarian, instead saya mencoba ayunan-ayunan yang ada di taman sebelum kembali ke pelabuhan utama. Saat mencapai pelabuhan di pulau induk, bis sudah siap menunggu, kami melaju menuju provinsi lainnya di mana Can Thao, kota terbesar di Mekong Delta berada, tempat di mana kami akan menghabiskan malam.







Can Thou adalah kota romantis yang menghadap salah satu cabang Sungai Mekong. Kota ini terasa semakin romantis saat seorang laki-laki berwajah Amerika campur Korea memberikan saya buah manggis. Anyway, di pusat kota terdapat pasar malam dan berbagai rumah makan yang menyediakan menu-menu lokal dan international.   Malam itu saya dan dua teman saya makan malam di sebuah rumah makan yang terletak di rooftop hotel. Dari rumah makan ini, terlihat tiga kapal yang merupakan rumah makan  terapung dan tempat berdansa. Papan-papan iklan yang jumlahnya tidak banyak sama sekali tidak mengganggu pemandangan.




Hari kedua kami harus bangun pagi-pagi sekali dan bergegas menuju pasar terapung. Pemandangan di pasar ini sangat feminis. Ibu-ibu Vietnam mengendalikan botanya dengan cekatan. Saat perahu kami memasuki pasar. Boat-boat pedagang mengejar dengan lihati dan mengkaitkan tali boatnya pada boat kami. Ada yang menjual kopi, mangga, lengkeng dan berbagai buah-buahan. Setelah puas belanja di pasar terapung, boat ini membawa kami ke sebuah desa untuk mengunjungi pohon tua. Batang pohon ini tidak seperti batang-batang pada pohon umumnya, batang-batang meliuk-liuk saling menyilang membentuk  pola yang rumit. Pohon ini pernah menjadi tempat persembunyian tantara Vietnam saat beperang melawan US. Kami mengelilingi desa ini naik sepeda.





Tur berakhir di toko oleh-oleh, menariknya mereka menunjukkan cara membuat mi, makanan sehari-hari orang Vietnam. Biasanya orang Vietnam makan Pha atau Sup mi beras. Di toko ini juga saya mencoba 1 sloki wine kelapa, rasanya kurang enak memang tapi membuat mata saya berair dan tersenyum. Dari tempat ini kami menuju rumah makan untuk makan siang dan bergegas menuju kota Chou Doc. Kota ini berada di perbatasan Kamboja dan Vietnam.

Hari ketiga adalah hari yang paling saya tunggu-tunggu karena saya akan mengunjungi Taman Nasional Tra Su.Taman nasional inilah yang membuat saya memilih Vietnam selatan untuk dijelajahi. Tra Su adalah wetland atau tanah basah, salah satu ekosistem yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Hutan Tra Su tidak seterkenal Mekong Delta. Sebagian besar turis akan mengambil tour 2 hari dan melewatkan the biggest show!




Saat memasuki area hutan, udara berubah segar. Air dan pohon yang berlimpah seperti berusaha keras menyadarkan kita bahwa mereka adalah kemewahan sejati. Di Hutan Tra Su, barisan-barisan pohon membentuk Lorong-lorong kecil yang menawan. Airnya ditutupi ganggang-ganggang hijau memenuhi permukaan air, persis seperti karpet dengan motif bunga-bunga berwarna hijau. Puluhan jenis burung terbang bebas di depan mata. Boat motor kemudian parkir di tengah hutan. Petualangan kami belum selesai. Kami kemudian pindah menggunakan boat manual yang dikayuh oleh gadis-gadis atau ibu-ibu Vietnam. Kami kembali dibawa melihat sisi lain hutan yang berada di tengah air, dalam kayuhan yang lambat, keindahan masih terasa singkat. Pada bulan-bulan tertentu ketinggian air di hutan ini bisa mencapai setengah batang pohon-pohon tertinggi yang ada di hutan ini. Pada bulan ini Tra Su biasanya ditutup.




Hari terakhir kami menuju rumah-rumah terapung yang masih bertahan di sekitar Chou Doc. Sistem arsitekturnya sangat menarik, rumah-rumah ini mampu berdamai dengan luapan-luapan Sungai Mekong selama ratusan tahun. Walaupun demikian, jumlah rumah terapung semakin menyusut, karena generasinya lebih memilih hidup di darat, lebih mudah untuk anak-anak mereka mengakses pendidikan. Sebelum globalisme masuk, masyrakat yang hidup di atas air sangat dihormati. Sekarang banyak dari mereka yang tidak bisa mengakses Pendidikan khususnya jika air Sungai Mekong meluap. Sebagian besar anak-anak yang tinggal di atas air tidak bersekolah. Di sini saya juga bertemu dengan dua ekor anjing yang setia menunggu tuannya. Dari rumah terapung, kami kemudian menuju sebuah desa di mana Suku Cham tinggal. Cham adalah satu-satunya suku dari Vietnam yang beragama Islam. Mereka pandai membuat roti dan anyaman.






Dalam perjalanan tiga hari ini selain mengetahui Vietnam lebih dekat, kami mendapat tiga teman baru, Namanya Fiona dari Swis dan dua laki-laki dari Amerika. Tiga hari yang sibuk sekaligus menyenangkan ini membuat kami cukup lelah dan mengambil jeda satu hari untuk beristirahat dan bermain ke museum-museum terdekat.

Saturday, June 1, 2019

SAIGON: Makan Darah and I Lost in Translation



Tahun 2016 saya berjanji kepada dua sahabat saya untuk liburan bersama ke salah satu negara ASEAN, pilihan kami akhirnya jatuh pada Vietnam karena Vietnam punya hubungan sejarah yang erat dengan USA dan karena National Geographic, langkah awal kami adalah membentuk group di Whats App bernama Vietnam Trip. Karena berbagai alasan seperti masalah pekerjaan, kesehatan, bencana alam dan keuangan janji ini akhirnya kami genapkan pada awal tahun 2019.

Selama dua tahun hal yang kami lakukan adalah berbagi artikel tentang tempat-tempat indah dan menarik tentu saja dari National Geographic serta page-page lokal Vietnam dari social media yang ditulis dalam Bahasa Vietnam dengan terjemahaan Bahasa Inggris yang bisa dimengerti.  Kami mengenal peta Vietnam dengan baik. Kami bahkan bisa mengingat lebih dari sepuluh kota-kota utama di Vietnam yang tersebar dari utara ke selatan.


Kota pertama yang kami tapaki adalah Saigon yang juga dikenal dengan nama Ho Chi Minh City. Kami tinggal di travel point yang disebut daerah Pam Ngu Lao di mana sebagian besar hotel dan penginapan untuk pelancong berpusat. Dari bandara saya menaiki bus dengan nomor 109 seperti yang disarankan oleh berbagai review di trip advisor. Kenek bus adalah seorang perempuan muda dengan Bahasa Inggris seadanya. Setelah menunggu penumpang, bus melaju memasuki kota. Saigon terlihat seperti kota tua karena motor dan mobil yang melintas seperti kendaran-kendaran pada saat saya masih duduk di bangku SD. Di dalam bus 109, hampir 100% adalah wisatawan asing. Sebenarnya saya ingin berbicara dengan Pak Supir namun sayang beliau tidak bisa berbahasa Inggris. Sepanjang perjalanan jika ada pertanyaan beliau hanya menyebut nama jalan dan distrik 1, 2 atau lainnya, saat ditanya balik, dia akan menjawab “no English, sorry.”

Sekitar 15 menit, akhirnya kami sampai tujuan. Matahari cukup terik, waktu makan siang belum melewati batasnya. Kami berhenti di sebuah warung yang ramai. Warung itu dipenuhi oleh pegawai kantoran yang datang untuk makan siang. Mereka duduk di atas kursi-kursi berkaki pendek. Dengan perut lapar, tanpa pikir panjang kami memesan makanan dengan menggunakan bahasa tubuh. Pelayan warung sama sekali tidak mengerti kata vegetarian. Saya memesan mie tanpa daging dengan menunjuk semua hewan yang digantung.  


Tidak lama kemudian, makanan kami datang. Saya mencampur berbagai saus dan kecap yang tersedia di depan saya. Rasanya sangat enak, mie Vietnam jauh lebih enak dibanding mie yang saya makan di Indonesia. Khusus untuk pesanan saya, makanan berbentuk seperti tahu berwarna merah diberikan lebih banyak karena saya memesan mie tanpa daging. Kami memakannya dengan lahap. Saat mie di mangkuk kami hampir kosong, seorang laki-laki terpaksa bergabung dengan kami karena meja yang kurang. It turned out that he speaks little bit English dan tiba-tiba bertanya kepada saya.

“Do you like this?” Menunjuk tahu merah di mangkuk saya.

“It’s red tofu, right?” Saya menjawabnya dengan pertanyaan.

“Yeah, it is blood tofu, it is blood.” Katanya dengan nada datar.

“You mean blood?” Saya berharap lelaki itu salah pronunciation atau semoga telinga saya salah dengar.

“Yes blood.” Dengan jawaban lebih tegas.

Setelah mendengar konfirmasinya, wajah kami berubah pucat, kemudian kami memindahkan sisa tahu darah ke piring kecil yang sebelumnya dijadikan alas mangkuk. Kami pun mengucapkan terima kasih atas penjelasan yang diberikan oleh lelaki itu, kemudian bergegas membayar dan mencari hotel tempat kami tinggal. Dengan menggunakan peta yang kami print, Saigon Central Hostel dengan mudah ditemukan. Sesampainya di hotel, dengan cepat saya meminta password wifi dan mengoogle apa yang baru saja saya makan. Yang saya makan adalah pig blood curd atau tahu Cina yang terbuat dari darah babi atau darah bebek yang dikeraskan and I am not sure which one I had. Biasanya makanan ini sangat populer di Hongkong, Cina, Taiwan dan Vietnam. Sejak saat itu, kami lebih berhati-hati mencari tempat makan. Di daerah ini hanya terdapat dua restauran halal. 

Wednesday, May 29, 2019

Pertanyaan Pertanyaan Bulan Mei


I often speak with my heart. However, bulan ini saya menjawab sekitar tiga interview, dari teman-teman wartawan dan ada juga dari mahasiswa. Seperti pertanyaan yang saya tanyakan kepada diri saya sendiri, pertanyaan-pertanyaan yang saya dapatkan bulan ini membantu saya mempertajam cara pandang, cara berpikir dalam melihat suatu permasalahan. Ini adalah transkrip wawancara yang saya jawab untuk turut mendukung seoarang mahasiswa ilmu komunikasi menulis thesisnya.

DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA

Daftar pertanyaan wawancara tentang akun Instagram @insidelombok.
Nama               : Ziadah
Usia                 : 32 Tahun, will be 33 years old this year.
JenisKelamin   : Perempuan
Pekerjaan        : Penulis/Translator/Interpreter/Photographer/Anything

Bagaimana awal mula Anda menjadi pengikut akun Instagram @insidelombok? Karena pekerjaan saya sebagai penulis, saya kenal banyak penulis di Lombok dan salah satu teman saya bekerja di Inside Lombok.

Bagaimana pendapat Anda tentang kegiatan jurnalisme warga yang dilakukan oleh akun Instagram @insidelombok? Cepat atau lambat posisi journalisme warga akan setara dengan koran-koran besar baik nasional maupun internasional, karena medium sama pentingnya dengan berita yang disampaikan, seperti kata Bapak Journalisme dunia McLuhan “medium is the message.” Kesetaraan telah memberikan kesempatan kepada warga dunia untuk menjadi journalist baik cecara langsung atau tidak langsung (parting from the post truth that we are facing now). Saat saya bekerja sebagai journalist di Amerika, posisi journalist kampus sama persis dengan journalist profesional lainnya, kami meliput berita yang sama, bahkan sering kali koran besar akan mengambil konten koran  kampus untuk diterbitkan di koran nasional. Di kota tempat saya belajar, kecamatan sudah biasa memiliki koran sendiri, biasanya koran tersebut dijalankan oleh satu keluarga.

Di NTB, Inside Lombok adalah journalisme warga yang mengawali phenomena kesetaraan ini, Inside Lombok sangat progresif dan merupakan media independen, tidak di bawah megapaper yang menguasai pasar media Indonesia. Dengan konten yang representatif dan reputasinya, Inside Lombok dengan mudah menyentuh masyarakat khusunya milenial yang dihadapi dengan framing megapaper dan hoax yang tidak ada habisnya.

Inside Lombok berusaha memeluk perubahan (embrace the changing) dan mampu melihat kebutuhan pasar dalam memaparkan beritanya. Pengikut akun instagram @insidelombok sudah melampaui akun koran besar lainnya, khususnya koran-koran di NTB. For Your Information, penulis @insidelombok adalah seorang emerging writer dari Ubud Writers and Readers Festival 2017. Salah satu pesta sastra paling bergengsi yang diikuti oleh penulis dan journalists kelas dunia.

I can see such a clear sign how citizen journalists are going to win the trust and definitely they have their own place in people’s heart. Further, journalisme warga telah melahirkan dua journalist/activists besar dunia yang memperjuangkan hak-hak digital seperti Julian Assange dan Edward Snowden. Mereka adalah journalist warga (sekarang Julian dipenjara dan Edward mendapat suaka (Asylum) dari Rusia, he can’t go back to his home country, USA karena pasti akan menghadapi unfair trial).

Saat terjadi bencana alam gempa bumi di Lombok beberapa waktu lalu, bagaimana pendapat Anda tentang informasi yang dibagikan akun Instagram @insidelombok terkait bencana gempa bumi Lombok tersebut? Inside Lombok memegang peran penting dalam membagi informasi, bahkan lebih berperan dibanding dengan koran besar lainnya di Lombok. Narasi yang digunakan mudah dipahami oleh pembaca. Konten visual mereka sangat beragam dan saling resiprokal dengan narasi yang ditulis. Pun masalah dan kebutuhan yang disorot sangat kompleks dan pada saat yang sama mereka berhasil menunjukkan detail-detailnya seperti masalah krisis air yang dihadapi setelah gempa, atau kekurangan tenda (kandang ayam yang disulap menjadi tenda sebagai representasi visual). Lokasi yang detail tempat kejadian sangat membantu untuk penyaluran distribusi bantuan dan menggerakkan hati pembacanya untuk turut membantu.

Inside Lombok cepat dan tanggap, melewati redaksi yang singkat dan padat sebelum suatu berita diterbitkan. Kolaborasi antar penulis, videomaker/photographer muda, content writer yang fleksibel juga sangat berpengaruh dalam menyiapkan konten yang akan dirilis di akun-akun mereka.

Informasi apa saja yang Anda dapatkan dari jurnalisme warga akun Instagram @insidelombok terkait gempa bumi Lombok? Sangat beragam, mulai dari awal gempa, paska gempa hingga proses recovery. 

Bagaimana menurut Anda peran @insidelombok sebagai media @jurnalismewarga dalam memberikan informasi bencana gempa bumi Lombok? Cepat dan representatif, sesuai dengan fungsi dan perannya sebagai media. Mereka berhasil menunjukkan kejadian yang terjadi di lapangan dan pada saat yang sama menyuarakan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat Lombok baik pada saat gempa, paska gempa hingga pada tahapan recovery.