Posts

Letter to Indonesia

Image
Gili Trawangan Dear Indonesia, Where do I have to start? Should I congratulate and wish you first or scream out all of my concerns out, or should I do it the other way around? It’s not that easy to write, because you and I are no longer who we used to be. I change, you change, some of you are completely different, some are left behind and remain who they were. Anyway, I was born in eighties, when I was younger I saw how your rivers and your ocean were much clearer, I bathed and swam in them, I did walk in the super thick forest where animal cheerfully sing. I played many games that take bamboos, coconut shells, a rag for blindfold or even just a big draw of some shapes on the ground. Did you remember that we used to have Sasak class at school? I even learned how to read the ancient manuscript and now I write you in English. Don’t you think it is odd? A few years ago I met Peter K. Austin, a linguist from Cambridge. He told me that my local tongue, Sasak is one of endange...

Home after My Exchanged Year

Image
Ready for home? A month before leaving, international office had started to give special program to help international students to be prepared for moving back home. This last month, the advisor fully talked about tips and trick to cope with reverse culture shock—a condition when a place that is expected to be home but feels no longer like home after living abroad. During the program there are four words that mostly said. They sound positive, sometimes tense and lifted. People change, you change . Every time I heard these words from my advisor, I already knew that I have to be more acceptant in order to get rid that shock away. As my flight home getting closer, my feet were getting heavier. Iowa looked even much more beautiful than the first time I saw it. I sighed then packed all memories. I brought home photographs, Tunisian t-shirt, letters, shoes, books, the statue of the reader from my mentor family and all tickets from museums that I have visited. May 18, I walk my feet o...

Customary Laws in Dusun Baru Murmas Bentek Village, Gangga, North Lombok

Image
Long before the Dutch came to Indonesia, Indonesians had their own laws, which were, and still are, called customary laws. Different from the current national laws and the laws that were used by the Dutch, these laws have never beenwritten. No one knows for sure who created these laws, and today they’re known as folk laws or customary laws. According to Widodo Dwiputro, Law Professor at Mataram University, customary laws are taken from customs of the community. These customs become stronger as time goes by, and then turninto laws that are remembered and agreed upon by society. To validate them and make them official, these customary laws are religiously or magically made sacred. Budi Hartono, Customary Laws leader of Bentek Village, Lombok, explains that customary laws existed long before the modern day widespread religions in Indonesia, such as Islam, Christianity, Hinduism, and Buddhism. Because customary laws are born out of traditions insociety, people do not feel burd...

Bertemu Frida Kahlo di Herd Museum

Image
Tinggal di Mid West membuat saya lebih terfokus mempelajari berbagai budaya Amerika yang lahir dari budaya Eropa. Saat liburan musim dingin, sambil mencari matahari hangat ke daerah selatan saya berkunjung ke Museum American Indian Art and History, Herd Museum. Biasanya, museum-museum yang saya kunjungi disangga oleh pilar-pilar raksasa yang mencerminkan bangunan bergaya Yunani kuno namun museum yang satu ini sangat berbeda dari yang lainnya. Saat melihatnya pertama kali, saya merasa seperti berada di dalam telenovela. Bangunannya seperti bangunan Mexico. Bersama seoarang teman yang juga menjadi guide saya di kota ini, saya dengan semangat menyusuri teras yang atapnya di sangga oleh pilar-pilar kecil. Untuk menikmati koleksi di museum ini, saya membayar $7.5 karena saya mahasiswa. Untuk dewasa $18, anak-anak dan remaja yang berumur 6-17 bayarannya sama dengan mahasiswa, untuk pensiunan $13.50 dan untuk anak-anak dibawah 6 tahun tidak dipungut biaya. Saya meng...

Makan Malam di Grimaldi, Scottsdale Kota Tua

Image
Scottsdale adalah kota tua yang terletak sekitar 25 menit dari Phoenix. Dari Phoenix saya dan teman saya menaiki bis 8050 ke arah Granite Reef. Di sepanjang jalan mata saya terus memandang ke luar jendela melihat punggung Camel Back mountain yang tandus dan jajaran pohon-pohon palm yang sangat tinggi. Teman saya menekan bel memberi tanda pada sopir bis kalau kami akan turun di Scottdale. Saya samapai di kota tua ini sekitar jam 5.30 sore dan matahari masih bersinar cerah. Arizona memang sangat cocok sebagai pelarian untuk meninggalkan dinginnya musim dingin di Midwest. Setelah turun dari bis kami langsung menuju Grimaldi. Dari namanya saja sudah terdengar Italy. Ya Grimaldi memang salah satu restaurant Italia yang paling populer di kota ini. Di luar bangku-bangku terlihat kosong namun saat saya masuk ke dalam restaurant ini hampir semua mejanya penuh. Seorang pelayan langsung menghampiri kami dan mengantarkan kami ke tempat duduk. Dia memberikan kami buku...

Mengunjungi Synagogue, rumah suci umat Yahudi

Image
Sejak kecil Abi saya sering menyebut kata Israel dan Yahudi terutama kalau dia sedang marah. Hal ini membuat saya sangat akrab dengan sepasang kata ini. Saat berkunjung ke New York saya menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu Synagogue yang berada di Museum miles. Synagogue ini disebut Kuil Emanu-El, terbuka untuk umum yang ingin mengetahui lebih dalam tentang Yahudi. Arsitektur bangunan ini seperti gereja. Pintu raksasanya mengingatkan saya pada gerbang merah kerajaan-kerajaan di China. Saat memasuki Synagogue, saya disambut oleh dua orang lelaki yang memberikan saya beberapa brosur tentang jadwal berbagai kegiatan dan sejarah tentang tempat ini. Biasanya kalau mendengar kata Yahudi pikiran orang akan conflict yang terjadi anatara Palestina dan Israel namun saat membaca kegiataan di kuil ini malah sebaliknya. Synagogue ini sering digunakan sebagai tempat dialog antar agama. Disebutkan pula setiap Jumat imam Muslim mengirimkan lilin Shabbat kepada umat yang datang b...

Menonton Drama Musim Dingin "Quilters"

Image
Setiap musim panggung Kikrwood selalu diramaikan oleh pementasan mahasiswa yang biasanya disutradarai langsung oleh dosen mereka. Pemain drama ini harus melalui casting yang cukup kompetitif. Drama musim dingin tahun ini bertajuk Quilters. Untuk menjadi pemeran dalam drama musical Quilters, para pemerannya tidak hanya harus bisa bermain peran dengan baik tetapi juga harus bisa menari dan menyanyi. Drama ini semakin menarik karena semua peran diperankan oleh perempuan. Quilters pertama kali muncul pada tahun 1982, ditulis oleh Barbara Newman, sedangkan music dan lyricsnya diciptakan oleh Barbara Damashek. Dalam Bahasa Indonesia Quilters artinya selimut, sprey atau sarung bantal yang terbuat dari kain perca yang dijahit dengan mengikuti pola-pola tertentu. Drama ini bercerita tentang kehidupan 7 perempuan “American West,” pada abad ke 18 dan tidak diceritakan seperti drama pada umumnya. Musik menjadi bagian dari cerita yang ingin disampaikan. Plot drama ini mengalir dala...