Satu Menit Menjadi Rektor Kirkwood Community College



Sebelum mengikuti kelas Cultural Society Institution (CSI), Dawn Wood—Direktur International Department—dan  International Student Advisor, Gyle Glick membawa saya dan beberapa mahasiswa yang lain ke Kirkwood Hall. Kami berjalan santai melewati taman hijau di bawah cahaya hangat musim panas yang setiap hari mengingatkan saya tentang Lombok. Untuk mecapai lantai tiga tersedia lift ,tapi dua perempuan yang sudah dianggap seperti ibu oleh semua mahasiswa dari seluruh dunia ini lebih memilih untuk naik tangga. Kamipun menaiki tangga yang bentuknya meliuk, di tengah liukan terdapat tiang yang dilingkari oleh kontemporer 3D shape art yang berbentuk seperti rantai DNA. Rasanya seperti akan bertemu Albus Dumbledore, ya bisa dibilang President Mick Starcevich adalah Albus Dumbledore versi Kirkwood Community College tapi tanpa jenggot. Sekertarisnya menyambut kami dengan ramah “Mick is ready to meet you”. Dia bahkan tidak dipanggil president atau direktur. Suara pintu terbuka lebar, seorang laki-laki tinggi berambut pirang berdiri tegak dan tersenyum lepas. Ia mengenakan kemeja putih licin dan jas abu. Karismanya pasti tetap terlihat walaupun dia memakai baju kaos. “Welcome to Kirkwood, let’s talk inside” katanya dengan semangat. 

Gyle Glick, Adil Rana, Mick Starcevich, Dawn Wood
Dia menyalami kami satu-satu, saya sebutkan nama dan negara saya dengan bangga, saya juga menambahkan bahwa saya akan belajar Liberal Art di Kirkwood. Kemudian dia menyebutkan nama lengkapnya. Pertanyaan pertama yang ia tanyakan “Do you like my room?” Kami menjawab ya dengan sangat yakin. Dari ruangannya saya bisa melihat turbin raksasa yang merupakan sumber energy untuk kampus. Diapun menceritakan dengan bangga kalau semua benda seni di ruangannya adalah karya mahasiswa Kirkwood kecuali satu piring besar yang ia beli di Cina. Tidak heran Kirkwood menjadi Community College ke-6 terbaik di Amerika, pemimpinnya selalu bangga dengan karya-karya lokalnya. Ia juga menanyakan apa yang sudah kami coba. “Did you try the bus?” tambahnya. Jawaban kami cukup panjang, kami bahkan menambahkan kegiatan yang akan kami lakukan pada malam hari. Ia bercerita tentang Winter di Iowa. Tempat ini sangat terkenal berangin dan sangat dingin, "Are you ready?. “I stay in a small island and it is warm all year but I am looking forward for Winter, this is going to be my first winter in my life”. Dia tersenyum lebar menyimak jawaban saya dan tiba-tiba menawarkan kursinya. “Do you wanna try my chair?” saya terkejut bahagia. “Yeah you can try my chair” katanya menegaskan tawarannya. Saya berjalan ke arah kursi dan duduk tegak. Kursinya cukup tinggi, kaki pendek saya menggantung, tidak bisa menyentuh lantai. “Sit back” tambahnya. Down memotret saya berkali-kali. President Mick mendekati dan menjabat tangan saya “Congratulation for being President Kirkwood Community College” katanya bercanda. Saya tersenyum lebar sambil menikmati kursinya yang empuk. “Barack Obama was sit there when he came here” Tambah Down sambil mengambil foto saya dan President Mick. Ini adalah ciri khas Amerika yang paling saya suka “tidak formal” dan selalu menampilkan humor di setiap pertemuan dan pidato.

Bagaimana tidak betah, belum hitungan bulan, Amerika terasa seperti rumah kedua. Ditambah lagi dengan keberadaan International Department yang sangat membantu, tidak hanya membantu mahasiswanya mengenai masalah akademik tapi juga masalah personal. Tidak jarang International Students akan datang ke department ini untuk curhat dan menangis kalau terlalu lelah mengerjakan project dan paper work atau datang dengan wajah kesal bercerita tentang professor-professor mereka yang berbicara sangat cepat dan terdengar seperti bukan Bahasa Inggris. 

Comments

Popular posts from this blog

Esai AAS: Kamu Melamar Apa atau Siapa?

Anatomi Essay Penerima Beasiswa CCIP

ESSAY REVIEW: Perempuan Penerima Tiga Beasiswa